Oleh: sarwestu | Mei 9, 2008

Nasib seorang perokok

Ketika kami sedang menunggu teman lain yang belum tiba di check point (perempatan Monjali, belakang pos polisi), ternyata di sana sudah ada orang yang sakit jiwa, dia duduk duduk sambil ngliatin jalan raya monjali dan kadang kadang nglihatin kita juga…kale kale ada yang kenal pikir dia.
tiba tiba dia merokok, dan ketika merokok itulah timbul pemikiran dari saya untuk mengabadikan aktifitas dia yang sedang merokok untuk di jadikan “ikon” bagi perokok lainnya.

Jika anda tetap bertahan menjadi perokok, hati hati saja anda akan bernasib seperti foto dibawah ini

anda mau tau tidak, ternyata di negara kita ada 42 juta perokok pemula, dan 37,7 juta diantaranya itu masuk katagori pelajar (usia < 17 tahun) , mereka itu ada yang memulai merokok pada usia 6 – 9 tahun, artinya ketika usia kanak kanak ternyata mereka (secara sembunyi sembunyi) sudah mencoba untuk merokok, dan ketika di tanya dari mana mereka belajar/tau cara mendapatkan rokok dan merokok itu sendiri ? ternyata mereka hanya mencontoh yang terjadi didepan mata mereka selama ini, ada yang pada awalnya hanya karena sering diminta/disuruh ayahnya untuk membelikan rokok, ada yang kemudian mengatakan karena melihat di lingkungan keluarga (rumah) para orang tua/orang dewasa merokok dengan nikmatnya sambil baca koran, nonton televisi, menjamu tamu, dll., sehingga timbul persepsi di midset anak anak bahwa merokok itu memang uena !!! akhirnya mereka merokok karena dipaksa oleh keadaan yang setiap hari dia temui, ya karena dalam proses pertumbuhannya, sianak sudah dijejali sketsa kehidupan yang keliru dimana orang tuanya merokok didepan mereka,jadilah mereka menjadi PEROKOK !!!!

selama ini pemerintah sudah berusaha sekuat tenaga untuk mencoba memerangi (mengurangi tepatnya) kegiatan merokok, misalkan di setiap kemasan rokok sudah ditulisi peringatan bahaya merokok, iklan rokok (baik di televisi/radio/media cetak) tidak boleh menunjukkan secara vulgar aktifitas orang sedang merokok (tapi jangan salah lho jika pendapatan dari cukai rokok yang diterima oleh negara setiap tahunnya minimal 52 triliun), ada pemda yang membuat PERDA agar masyarakat tidak merokok di sembarang tempat alis hanya boleh merokok di tempat khusus) misale kota jakarta, kampus FK UGM pun sudah menerapkan kebijakan anti rokok, artinya mahasiswa S2 hanya boleh merokok di tempat yang sudah di tetapkan (tempatnya ada di dekat kandang kambing – kandang hewan untuk praktikum).

namun segala upaya itu ternyata masih kurang di ikuti dengan sanksi yang tegas dari pembuat kebijakan sehingga nampaknya aturan ya sekedar aturan dan cenderung hanya himbuan saja, sehingga tidak membawa dampak apapun, akibatnya masih banyak yang merokok dan semakin banyak yang menjadi korban karena asap rokok

marilah kita berpikir dan mengajak kepada siapapun untuk berhenti merokok, karena apapun alasane merokok itu memang membahayakan untuk diri sendiri dan orang lain, kalo ada ulama yang berpendapat bahwa merokok itu tidak sekedar makruh tapi sudah “haram” bisa jadi memang ada benernya karena merokok selain tidak membawa manfaat apapun, jelas jelas hanya akan merugikan diri sendiri dan orang lain.

karena itu yang sudah punya sepeda, ayo olah raga dengan menggenjot terus sepedanya, selain sehat insya allah lingkungan kita jadi bebas dari polusi, yang belum beli sepeda, ayolah segera beli sepeda (1-2 juta) sudah bisa dapat sepeda bagus kok, terus kita genjot sepedanya ben sehat waras dan seger terus awak lan pikirane…

(ssssstttttttttttttttttt……jangan bilang bilang kalo bersepeda itu memang uenaaaaks, lebih enak ketimbang merokok !!!!!)

bravo bikers

Oleh: sarwestu | April 17, 2008

tong kosong berbunyi…klontheng klontheng…

Anak anak memang selalu polos dalam menjawab setiap pertanyaan yang kita berikan atau apapun yang ditanyakan kepada dia,  jika kita amati setiap jawaban dari mereka selalu berbasis kepada “memori” pengalaman dia selama hidupnya dan daya khayalnya, jadi jika anak kita menjawab pertanyaan dari kita namun jawabane “aneh” cenderung “lucu“, ya itulah anak, dan jawaban itu adalah jawaban yang polos tanpa ada tendesi berbohong ….. itulan dunia anak anak.

ceritanya begini, suatu hari anak (kelas 2 SD) saya belajar dengan ibunya, pelajaran yang dibahas adalah pelajaran bahasa indonesia. diskusi dan penjelasan dari setiap pertanyaan dari pelajaran itu dijawab dengan mudah lancar bijak dan sesuai dengan harapan istri saya sebagai guru dan anak saya.

hingga sampailah pada topik pembahasan mengenai peribahasa, kemudian istrinya memberi pertanyaan seperti apa yang tertera dalam buku tentang sepenggal bunyi sebuah peribahasa,

Tong kosong berbunyi titik titik“…kata istrinya yang maksutnya, titik titik harus diteruskan sesuai dengan bunyi peribahasa yang sebenarnya

Baca Lanjutannya…

Oleh: sarwestu | April 16, 2008

city bike di rerimbunan mountain bike

ketika kami beristirahat di “warung wader” pakem (100 m sebelum RM Morolejar, di tempat parkir saya mencoba mengamati satu persatu sepeda yang diparkir di situ, baik itu yang dari kelompok PMPK UGM, maupun yang dari Bank Niaga Jogja.

dari kerumunan sepeda yang beraneka ragam tipe dan merk, namun yang jelas adalah dari tipe tipe khusus untuk cross country, ada yang sudah memakai ban radial cukup keren (besar) dan yang jelas itu untuk trek medan berat, trus ada yang framenya memang terlihat kokoh dan kuat, hingga yang hanya era sepeda federal jaman tahun 90 an.

diantara rerimbunan sepeda yang memang khusus untuk trrek trek cros country, terselip satu buah sepeda dengan tipe khusus cewek alias city bike, dengan ciri frame yang berbentuk setengah lingkaran dengan ciri utama “keranjang” di bagian depan sepeda.

mungkin sebagian bikers itu geleng geleng kepala, ini sepeda siapa ya ? kok iso tekan kene ya? sik numpak sopo ya?

usut punya usut, ternyata itu adalah sepeda dari salah satu tim kita, mas eki tepatnya. mas eki dari jogja memboncengkan anak kesayangannya hingga pakem, meskipun jalan menanjak dan ada jalan yang tidak beraspal juga, kedua pasangan ini (anak dan ayahnya), terus mengayuh sepedanya hingga finish, tidakmau kalah dengan teman teman sik memakai sepeda seperti astroz dan tango.

makanya bagi teman teman sik belum merasa tertarik untuk gabung dengan komunitas ini, ayolah..didepan mata kita sudah ada  contoh, jadi tidak ada alasan lagi untuk tidak ikut bersepeda hanya karena punya sepeda model city bike,  sebab bagi kami bersepeda untuk sehat dan hepi…

bravo bikers

Oleh: sarwestu | April 15, 2008

warung wader-pakem

ada warung (kalau dari arah bawah, letaknya 100 meter sebelum RM Morolejar),khas yang menjual ikan wader goreng. Ternyata warung itu memang sering dijadikan “jujugan” tempat istirahat bagi kaum bikers yang sudah selesai melakukan turing di daerah cangkringan atau kali kuning atau bahkan daerah dekat rumah maridjan (juru kunci gunung merapi yang terkenal itu).

kemaren ketika kami mau turun ke jogja, kami mencoba juga ikut istirahat diwarung itu bersama bikers lain dari komunitas bikers BANK NIAGA Jogja. Dengan menu makanan yang sederhana murah meriah (ber delapan hanya jabis 63.000 rupiah), kami bisa istirahat sejenak melepas kelelahan setelah genjot sepeda dari Jogja.

di tempat itu yang masih merokok juga masih sah untuk melalukan aktifitas merokoknya, yang mau leyeh leyeh sambil diskusi soal sepeda juga sah sah saja, tim dari pmpk ugm memang unik selain pesertanya ada  3 perempuan (mbak putu dan mbak rima, tak lupa anake mas ekki) kita juga ada yang memakai “city bike”, mungkin bikers yang ketemu diwarung itu “gedeg gedeg” menggelengkan kepala, kok iso sih city bike tekan kene ???…he he he …itulah pmpk ugm

jadi siapa yang mau ikut nimbrung silahkan besok minggu depan kami tunggu

salam sehat, hepi dan orak oleh nesu

bravo bikers

Oleh: sarwestu | April 14, 2008

Finish di RM Morolejar Pakem- 13 April 2008

Finally, akhirnya kami sampai juga di daerah Pakem (RM.Morolejar) dengan bersepeda cing !!! Mengapa saya sangat senang sekali ?

Mungkin bagi bikers lainnya (tentunya yang sudah bukan pemula, ke pakem itu hal yang biasa dan lumrah, kalo memakai istilah anak gaul “..itu mah cemen...” sambil menjentikkan kuku di jari kelingkingnya, yang artinya adalah … cih itu mah kecil tidak ada artinya sama sekali..). Namun lain bagi saya, naik sepeda hingga pakem, adalah sesuatu yang sangat luar biasa sekali…fantastik…edan tenan !!, apalagi dalam kondisi pasca stroke yang saya alami kira kira 4 – 5 bulan lalu.

Meskipun ngos ngosan, saya ndak pernah menunjukkan kepada anggota(peserta) lainnya (nek aku janjane yo kesel tenan … he he he ), alasane saya harus terus bisa menjadi leader bagi mereka, khususnya untuk terus memberi semangat kepada mereka, agar jangan menyerah untuk terus genjot sepedanya.

Perjalanan kali ini di ikuti oleh 7 peserta plus 1 anak anak (anake mas Ekki), ada mb’ Putu, m’Yos, mb’Rima, m’Eko, m’Ekki, dan ada peserta baru pak Tris dan m’Mamat, sementara yang lainnya seperti biasa menjawab pertanyaan ”Who is absent to day ?”, mas bimo (masih sakit), mbak ninik (tidak memberi informasi kenapa tidak ikut ?), mbak nenggih (tugas ke Semarang – ngrapungke tata kelola ambek pak kuncoro ? ini lho cirine pmpk..liburpun tetep harus kerjo, padahal uu naker tidak boleh hari libur itu untuk kerja, kasihan keluarga…he he he…wani po protes ???), mas asdan (tidak memberi informasi kenapa tidak ikut ? mungkin karena bagi tugas dengan mbak neng untuk momong anak anak….), mas nunung (kerja bhakti munggahke gendeng…orak penak ambek morotuwane yo mas ??? …. ), mas agung (jare mas nunungmas agung kulakan oli ke semarang …. ojo ojo kesele during ilang yo mas???), mas heri (tugas ke Bontang…sambil nglumpuke lumpsum untuk frame baru he he he ), sementara mbak dewi, mbak ivon, dan pak syafril hingga kini belum pernah ikut..he he he…

Jam 05.50 start dari check point di gejayan menyusuri arah timur ring road, kemudian masuk ke utara..blusukan keluar masuk desa, sawah dan jalan jalan kampung, hingga tau tau kami beberapa kali melalui rute yang kemaren kemaren pernah kita lalui, hingga pada akhirnya kami sampai di daerah morolejar,

tanjakan demi tanjakan kita sikat habis meskipun saya tau banyak teman teman yang mulai protes, misale kenapa tidak foto fotoan, cari dong tempat istirahat di tempat yang ada pemandangan bagus, kita tetap harus fun dlsbnya., yang tujuannya janjane “minta istirahat karena lelah !!!!

Akhirnya kami sampai di morolejar, rumah makan tradisonal dengan menu ikan ikanan yang sangat terkenal itu, begitu kami sampai di rumah makan tersebut, rasa syukur bahagia senang dan berterimakasih kepada tuhan, karena akhirnya kami bisa juga mengalahkan rasa khawatir dan keraguan kami, …opo iso seh tekan pakem ?…..

foto didepan RM.Morolejar Pakem

Kini kami sudah membuktikan itu semua, kami bisa sampai di pakem dengan bersepeda, selain sehat kami juga hepi…meskipun saya tau, turing kali ini 90% trek jalan raya (aspal), selain membosankan kita menjadi kehilangan ”fun”nya…maaf ya teman teman.

salut hebat two thumbs untuk teman teman yang bahu membahu menggenjot sepedanya hingga kami sampai di pakem morolejar !!!!!

minggu depan aku orak iso melu…..selamat bersepeda ya…hati hati

sik durung iso melu, ayo ikut bersepeda…pokoknya hepi dan sehat..tur orak oleh nesu yoooooooo……..

Perjalanan kali ini, banyak diwarnai dengan cerita yang seru, karena kita melalui rute rute yang menantang, seperti keluar masuk sungai, menyusuri pematang sawah, mengangkat sepeda, dan tentunya selain menyusuri trek trek aspal. Yang special pada perjalanan kali ini salah satunya adalah ke ikutsertaan mas Eki dengan putranya, sepanjang rute yang dilalui mas Eki telah membuktikan bahwa yang namanya

kerjasama tim itu memang mampu memberikan solusi yang memuaskan, buktinya selam Baca Lanjutannya…

Oleh: sarwestu | Maret 30, 2008

Touring de Pakem – 30 Maret 2008

Perjalanan kali ini, hanya di ikuti oleh mas Heri, mas Ahmadi (mahasiswa KMPK), bang Yos dan saya sendiri.

Ketika saya bangun pagi (subuh 30 April) ada beberapa sms yang mengirim khabar ketidak ikut sertaan teman kita seperti bu walikota (mbak Ninik) karena harus mengantarkan anaknya ke taman budaya, mas Eko karena sudah janjian dengan mas Nunung untuk ikut sepedaan dari sebuah parpol, dan mas Asdan yang pamit, karena mbak Nenggih masih di Jakarta, dan tentunya pak walikota (mas Bimo) rak iso melu karena tangannya masih dalam proses penyembuhan … cepet sembuh ya pak walikota…….amin.

Kota Jogja pagi itu (sejak malamnya) terus di guyur hujan, tiba tiba ketika saya sedang prepare (memakai istilah mas heri…..jam 05.14) mbak putu kirim sms (dengan nada menyesal kali ya), …

yaaaa … hujan”…. sepertinya ada nada peyesalan yang sangat mendalam dari beliau, karena memang cuaca pagi itu kurang bersahabat, apa boleh buat ini sudah kehendak sang hyang Widi mbak. Dengan menggunakan salah satu rules yang menyebutkan “jika hujan maka kegiataan sepeda batal”, maka dengan berat hati saya kirim khabar ke semua peserta (Eko, Heri, Putu, Nenggih, Yos,Ninik, Bimo, Nunung, Dian, Ahmadi, Nusky, Syafril dan Leman) bahwa “Acara terpaksa dibatalkan”…..sedih deh !!!!

Ditengah rasa kecewa dan sedang mencari jalan keluarnya tiba tiba ada sms masuk dari mas Heri

Atas gak ujan neh aku ma pak ahmadi udah diperempatan” maksutnya mengabarkan kalo dia dan mas Ahmadi sudah berada di check point kita bertemu (pos Polisi Ringroad Gejayan),

Wah pie kie, batal opo terus ..?” gumam saya. Hanya karena rasa tanggung jawab dan rasa solider sebagai teman, meskipun hujan (istri saya juga ngingetin…mas masih hujan…), sayapun menyusul mereka di check point kita. Woeh ..ternyata benar mas Heri orak bohong, mereka sudah disana menunggu dipos ojek ring road gejayan…hebat salut dan loyal……plok plok plok, two thumbs ….

Singkat cerita akhirnya kami juga mengajak bang Yos untuk gabung, ditengah tengah menempuh perjalanan, bang Yos bercerita kalo dia rela untuk menunda ibadah bersama mbak rima demi sepedaan … plok plok plok … padahal konon cerita bang, kalo saat pagi hari dan hujan lagi, adalah waktu yang jos untuk ibadah bang … he he he … tapi ketika saya ingat mbak putu jadi kecian deh dia, sudah ditinggal ke Bali, ndak jadi sepedaan, eh rak iso ibadah, he he he… sabar ya mbak….

Akhirnya kita kayuh juga sepeda ini menuju kearah timur dan berbelok ke utara, rute yang dipilih leader kita kali ini (mas Heri) awalnya memang payah dan menghabiskan tenaga, sekaligus uji mental juga, karena kita harus naik turun tebing, ngangkat sepeda, hingga melewati samping rumah orang (lewat tumpukan sampah). Rute ini memang diluar dugaan, belum jauh sih dari Kampus UII ring road tiba tiba kita menemukan dam/waduk buesaaaaaaaaaaar sekale, saking bingungnya milih jalur apapun kondisi jalannya, karena sepeda ndak mungkin digenjot dan satu satunya jalan hanya sepeda diangkat !!!!!, ya kita jalani aja yang penting hepi……bahkan kita juga menuruni tebing waduk, saking licinnya saya kepleset (begitu sudah jauh bang yos baru bilang kalo sebenarnya dia mau mentertawakan saya ketika jatuh kepleset saat turun tebing, cuma ndak enak……ha ha ha..ceria terus bang rak oleh nesu)

ndak ada jalan

Perjalanan kita lanjutkan, di tengah menyusuri desa lagi lagi bang Yos minta untuk break, di tempat istirahat pertama, maunya beli pisang tapi karena ditawar ndal boleh yowes dilanjutkan aja, sampai pada akhirnya kita menemukan warung yang rada komplit, dan biasalah bang Yos nafsu banget beli bodrex !!!!!!, memang aneh bang yos itu, orang lain kalo sepedaan nyarinya minum untuk doping biar kuat, eh dia malah cari doping bodrex, nah ini masukan untuk mbak putu, adakah korelasinya antara bodrex dengan sepedaan????

Setelah beli bodrex dan menyumbang pabrik milik pak Philip Morris, perjalanan dilanjutkan hingga sampai disebuah persimpangan, tiba tiba saya diperintahkan untuk memilih jalur “terus lurus” masuk jalan kecil disamping rumah menyusuri sungai kecil (orang jawa menyebutnya “kalen”), baru berjalan beberapa meter ternyata (maaf) lagi ada beberapa orang yang bertapa alias jongkok membuang hajat, saking kagetnya melihat rombongan kita, mereka langsung berdiri menaikkan celananya untuk membatalkan membuang hajat, sambil ngomong…

mas jalannya buntu ndak bisa dilewati”… dengan rasa malu dan tertawa cekikikan kami pun mengangkat sepeda kami untuk berputar haluan … lha iyalah daripada dilemparin anunya kaleeeeeeeee….

Dengan moto tetap hepi dan orak oleh nesu, maka kami melanjutkan rutenya hingga menyusuri pematang sawah, masuk sungai dan akhirnya kami malah bertemu dengan rombongan bike to work dari tim lain (katanya pak ahmadi sih salah satu pesertanya adalah Ketua bike to work jogja). Kalau mereka hendak turun melalui rute yang sama dengan kami, lha kalo kami malah justru baru naik…gilaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa

Setelah rombongan itu pergi berlalu, komentar bang Yos dan mas Heri, saya dikatakan anggota bike to work “gadungan”, karena apa ? sebab sepeda saya sudah pake tanda /stiker bike to work Jogja, tapi ndak ada satupun mereka yang kenal sama pak Atuk…ha ha ha, kamu ketahuan … TNI gadungan ciiiiiiiiiiing

Wah rute kali ini memang luar biasa, jalan terus naik tiada henti, saya benar benar “LELAH” dan menyerah, rasanya paha ini sudah orak kuat mengayuh sepedanya, tapi karena semangat untuk sehat (dari pada sakit dan uang untuk beli obat) sayapun tetap semangat mengayuh sepeda, hingga akhirnya kami sampai menemukan kembali jalan raya menuju pakem, didesa Umbulmartani Pakem Sleman.

Capek haus dan lapar sudah tak tertahan, maka kami putuskan untuk finish dan berputar pulang ke Jogja melalui jalan raya kaliurang, kami isitirahat di warung pecel untuk istirahat dan sarapan pagi makan nasi pecel…

Trimakasih bang Yos, yang sudah mengorbankan uang lumpsumnya untuk nraktir sarapan pagi kita……..

Maaf untuk mbak putu yang pada akhirnya kami tinggal bersepeda, meskipun saya tau ada guratan kesedihan dari mbak putu karena kami tetap bersepeda dan meninggalkan mbak putu, maaf ya mbak.

Minggu depan kata bang yos dan mas heri kita akan coba trek ini, karena menurut kami trek ini memang sangat menantang dan melelahkan, bagi yang belum sempat gabung ayo minggu depan kita kayuh sepeda kita menyusuri rute ini

oh ya ketika kita bingung memilih rute, eh malah kita ketemu sama mbak mbak yang kerja di konter Kantin Medika paling barat (dekat kamar mandi)….dia kira mungkin kita ngeyel, karena dia bilang tidak ada jalan, kita masih nekad aja menyusuri sawah dan masuk sungai ….. basah deh

dan bagi yang dapet lumpsum, minggu depan bisa ikut kok, untuk nraktir kita …he he he

Jangan lupa :

  1. Bersepeda sebaiknya memakai alat pengaman standar seperti Helm, kaos tangan warna hitam (converse), Decker tangan warna hitam, dan Kamera (untuk foto fotoan)

  2. Sebaiknya hindari merokok, karena merokok bisa menyebabkan sakit jantung, kanker, impotensi dan gangguan kehamilan.

 

Suwun

Perjalanan kali ini, di ikuti oleh bang Yos beserta istri (Bu Rima Yos Hendra), mas Asdan beserta bu Nenggih, mbak Ninik, mas Heri., dan tentu mbak Putu (sayang mas Eko, pak Ahmadi – mahassiswa S2 KPMK, keponakan mbak Ninik, dan mas bimo…. orak iso melu)
Sesuai dengan kesepakatan bahwa titik kumpulnya ada di pertigaan Janti Jl.Solo.

Tepat pukul 05.30, sms hape saya berdering, saya buka ternyata isinya mengatakan bahwa mbak putu sudah berada di depan toko roti parsely ….. wah gawat nih!!! , kasihan mbak putu sendirian. Tanpa mikir panjang lagi, saya yang seharusnya janjian dengan mas Heri untuk bertemu di depan Hotel Jogja Plaza Jalan Affandi (dulu namanya Jl.Gejayan), cabut duluan menyusul mbak Putu yang sudah menunggu.

Memang luar biasa sekali, semangat dan kedisiplinan mbak putu itu, janji jam 05.30 yang jam segitu sudah sampai di titik point, padahal lokasi rumah mbak Putu tergolong yang rada jauh (JL.Godean cing !!!!), nggak kayak lainnya… OTW, prepare atau malamnya nuthuk …. (memakai istilah dari mas Heri).

  dsc00452.jpg

Belum lama saya bertemu dengan mbak putu, lagi lagi saya dikejutkan oleh bunyi hape (sms) dari mbak Ninik yang mengabarkan kalo beliau juga sudah sampe di perempatan Blok O, dalam kebingungan antara hendak menemani mbak putu dan mikir kasihan mbak Ninik menunggu sendirian di Blok O, eh .. ndak begitu lama malah mbak Ninik meluncur ke arah utara menyusul kami di titik point kita di janti (kelamaen kaleeeeeeeeeeee…..)

Akhirnya saya, mbak putu, mas heri dan mbak ninik bertemu di pertigaan Janti. Sedangkan Tim dari arah timur yang terdiri dari (pasangan suami istri) mbak Neng dan mas Asdan serta bang Yos beserta istri, belum juga nongol nongol (jangan jangan bang yos malemnya ngibadah, jadi kesiangan deh bangunnya…),

Bolak balik kami melihat jam “wah rada lumayan juga nih molornya”, tapi ndak papa, karena sifat kita adalah bersepeda untuk hepi maka seberapapun telat/molornya teman kita, ya kita harus di tunggu…dengan catatan yang nunggu orak oleh nesu !!!!

Singkat cerita, kami sudah ngumpul dan mulai mengayuh sepeda menuju kearah berbah, menyusuri komplek AAU (tidak lupa kita foto fotoan di depan pintu gerbang AAU), keluar masuk dusun, kandang sapi dan menyusuri pematang sawah … kata mbak putu perlu diselidiki, kenapa pak atuk sering mengajak tim bersepeda PMPK melewati kandang sapi ?, adakah korelasinya antara pak atuk dengan sapi atau antara pak atuk dengan kandang sapinya ?… halah

Sampai pada akhirnya, kami menemui jalan buntu, (jalan ditutup karena akan digunakan masyarakat sekitar untuk melaksankan resepsi pernikahan), dengan tekad yang kuat (sedikit rai gedek) kami mencoba untuk minta ijin numpang lewat, tak disangka sangka pemilik rumah yang mau melaksanakan acara pernikahan itu mengijinkan kami untuk melewati lokasi pernikahan (emang sih belum ada tamu, tapi kursi, meja hidangan, pelaminan pengantin semua sudah ditata rapi).

Saking gembiranya kami dapat ijin, tentu kita tidak lupa untuk foto fotoan, mulai didepan tuwuhan hingga foto di depan pelaminan pengantin…saking gilanya kale ya, malah ada juru masak respesi itu nekad ikut foto dengan membawa serok goreng (emang dasar ndak mau rugiiiiiiiiiiiiii..!!!!)

Akhirnya kami sampai ditujuan finish di RS.panti rini, hitung hitung sekalian membezuk mas Bimo yang siang hari itu mau melaksanakan operasi pasang pen karena tulang di tangannnya ada yang patah.

Awalnya satpam tidak mengijinkan kami untuk masuk, namun sekali lagi dengan rayuan gombal dan sedikti nekad, kami meminta ijin untuk bisa menengok kawan kami, dan akhirnya kami bisa masuk keruang mas bimo meskipun tidak bisa barengan, karena rs masih dalam tahap pembersihan ruangan(bezuk mas bimo dibagi dalam dua kloter, karena ndak boleh banyak banyak yang jenguk)

Perjalanan kali ini diakhiri dengan sarapan gratis di soto Kadipiro Kalasan, ini bisa terjadi ternyata karena pak LT memberi sangu ke mbak Nenggih, dengan wanti wanti supaya teman teman yang sepedaan bisa sarapan pagi di warung (dan ben orak ngrepotin orang lain kali ya???)

terimakasih bos, besok lagii ya…halah

Akhirnya kami kenyang di traktir pak LT makan soto, bisa membezuk mas bimo, bisa sehat dan yang penting bisa hepi

 

« Newer Posts

Kategori