ternyata dengan modal “3(tiga)” kali wes tekan daerah sekitar Pakem, tidak menjamin diri saya mampu menaklukan Kaliurang dengan “mudah”, buktinya kemaren (11 mei) saya bersama dengan teman “genjoter” gagal mencapai target untuk finish di Kaliurang (Pos Polisi dekat Wisma WARA)….yah gagal maning ..gagal maning….
sebetulnya usaha dan semangat dari saya dan teman-teman yang lainnya sudah optimal, ini dapat dilihat dari semangat yang terus membara dan rasa optimisme tinggi bahwa kita bisa mencapai target, makanya setiap tanjakan yang menghadang didepan mata, selalu dapat kita atasi dan berhasil ditaklukan, meskipun saya tau bahwa itu semua dikerjakan dengan tidak mudah dan dengan usaha yang luar biasa sekali, sampai ngos ngosan bahkan ada yang hingga kelaparan dan berhalusinasi dengan melihat warung soto……
semangat dari para genjoter ini menimbulkan dampak yang cukup signifikan terbukti hari senin, ketika kita bertemu di kantor dan saling membicarakan perjalanan turing hari minggu, keluar dengan sendirinya keluhan dan omongan dari genjoter yang dapat diartikan bahwa rute kemaren emang sungguh berat…berat sekaleeeeeeeeeee…….
ini ya misalnya …..ada yang mengeluh ototnya kram, trus ada yang mengeluh malamnya demam, trus ada juga yang mengeluh pahanya menjadi kenceng kenceng (asal jangan yang diantara dua pahanya saja), hingga ada yang mengeluh kalo badannya menjadi pegel-pegel.
semua itu menandakan sebuah kesimpulan sebenarnya semua peserta (jujur saja) sudah kehabisan tenaga ketika menempuh jalur itu, hanya karena perasaan “malu” atau bisa jadi “gengsi”.
semua bentuk kelelahan apapun wujudnya dicoba untuk di sembunyikan rapat rapat, hingga ada salah satu peserta yang “melempar handuk putih”.
secara kebetulan sekali mbak ayu, ketika sampai di km 21 (aku lupa nama deso ne je) sudah memberikan sinyal sinyal melempar handuk putih, maka dengan suka cita peserta lainnyapun dengan penuh semangat mendukung dan mengiyakan secara aklamasi usulan mbak ayu agar kita tidak usah melanjutkan usaha ini dan sebaiknya turun kembali saja ke jogja, ketika itu mbak ayu beralasan jika jam 11 ada janjian untuk ketemu dosennya untuk melakukan konsultasi
tanpa komando berkumandanglah koor …..setujuuuuuuuuuuuuuuuuuu…..
karena komunitas ini sangat sangat demokratis, maka diputuskanlah kami untuk turun…halah padune !!
ketika koor dengan nada dasar do sama dengan ce fals berkumandang dengan lantangnya…..bersamaan dengan itu ada guratan kesedihan yang menggelayut di wajah saya, karena saya yakin (sok yakin sih) bahwa jarak tempuhnya sampai finish tinggal +/- 3 km …so, khan sayang jika harus gagal atau harus mengulang kembali minggu depannya, namun bersamaan dengan itu saya berpikir
“apalah arti kepuasanku itu jika ternyata aku beridiri diatas kepedihan, kelelahan, keperihan hati, kekecewaan dan yang sejenisnya orang lain”, sehingga hanya akan membuat diri saya menjadi manusia yang “otoriter”, “rakus”, “jahat”, dan “mendolimi” orang lain,
maka aku jawab kesedihan dan kekecewaanku itu dengan tekad dan janji …
“kaliurang tunggu minggu depan, aku akan kembali untuk menjemput kesuksesanku yang tertunda”
