Perjalanan kali ini, banyak diwarnai dengan cerita yang seru, karena kita melalui rute rute yang menantang, seperti keluar masuk sungai, menyusuri pematang sawah, mengangkat sepeda, dan tentunya selain menyusuri trek trek aspal. Yang special pada perjalanan kali ini salah satunya adalah ke ikutsertaan mas Eki dengan putranya, sepanjang rute yang dilalui mas Eki telah membuktikan bahwa yang namanya
kerjasama tim itu memang mampu memberikan sol
usi yang memuaskan, buktinya selama genjot sepeda city bike mas eki memanfaatkan anaknya untuk menjadi navigator dan supporter agar tetap jalan terus meskipun capek lelah dan panas.
Disalah satu sequel perjalanan itu, sepeda mas Nunung terpaksa di tuntun, karena rantainya putus, padahal kala itu kita berada di tengah sawah yang jauh dari rumah penduduk maupun bengkel, selain sepeda ndak bisa dibenerin lagi, ya karena kita juga tidak pernah membawa tool kit apapun untuk emergency jika ada sepeda yang rusak seperti itu, salutnya teman teman ternyata rasa memiliki solidaritas dan rasa kebersamaan yang sangat luar biasa baik, terlihat ketika ada orang yang susah tanpa ada yang meminta, ternyata ada yang mencoba benerin sepeda, ada yang mencari informasi bengkel terdekat dan ada juga yang menunggu sambil leyeh leyeh karena panas dan capek … he he he, Ditengah sawah kami rapat sejenak untuk memutuskan program selanjutnya bagaimana? mau melanjutkan perjalanan ataukah kita akhiri turing kali ini ? (tanpa harus membedakan suku agama ras dan jabatan dikantor), kita ambil mufakat dan kata sepakat untuk “memutuskan” menghentikan turing ini dengan mengarahkan perjalanan menuju jalan kaliurang dengan harapan sepeda mas nunung segera dapat diatasi. Alhamdulillah kita dapat informasi jika di seberang desa ada bengkel sepeda, dan akhirnya sepeda mas nunung pun di benerin dan selanjutnya bisa melanjutkan perjalanan kembali.
Dalam masa istirahat sambil menunggu sepeda mas Nunung dibenerin, saya mencoba mengamati satu persatu peserta turing kali ini, ada yang kecapean, ada yang tetap ceria, ada yang nyari minum karena ndak bawa air minum, mau beli aqua ndak ada warung. Yang jelas semua nampak bahagia senang, meskipun keringat mengucur deras meskipun paha ini sudah berat genjot sepeda namun guratan wajah senang ceria masih mendominasi semangat teman teman…..ayo genjooooooot terus bikers agar badan sehat hepi dan tetap orak oleh nesuuuuuuuuuuuuuuuuuuu…
Mungkin rute yang sangat berkesan untuk perjalanan kali ini adalah ketika kami harus melewati sungai, dimana jalan satu satunya hanya dengan mengangkat sepeda, dan resiko yang akan dihadapi adalah jalan setapak yang licin dan siap siap untuk basah. Saya, mas Ahmadi dan mas Heri berbagi tugas dan bekerjasama, mas Heri dan mas Ahmadi menaikkan sepeda, sementara saya yang bertugas motret…he he he, licik juga ya. Yang Nampak saat menyebrang sungai adalah semua peserta saling membantu tidak ada yang nganggur, contohnya ada yang membantu mengangkat sepeda, ada yang membantu peserta ke atas, ada yang mengatur sepeda, ada yang mencari jalan keluar dan tentu ada yang motret (tapi ada juga yang malah mainan air, mungkin ketika massa kanak kanak tidak pernah main di sungai ya).
Ketika semua sudah sampai diatas sungai, ternyata tidak ditemukan jalan keluar, akhirnya mas ahmadi berinisiatip untuk mencari jalan keluarnya, saat dia sedang mencari cari jalan keluar, dia berpegangan pada sebuah batang pohon dan kejatuhan sarang semut, akibatnya baju mas ahmadi dipenuhi sarang semut, ya sudah terpaksa dia buka buka baju, tapi bukan termasuk aksi pornografi lo, meskipun yang melihat hanya mbak putu tok…… Perjalanan dilanjutkan lagi, kali ini mas Heri berada di depan, mustinya mas Heri memilih jalan belok kekanan, namun dia tetap memaksa belok kiri, sementara penduduk sekitar sudah mengingatkan kalo kearah situ tidak ada jalan selain hanya pematang sawah (galengan sawah). Dasar kita ini memang cyclist sik ngeyelan, ya tetep aja nekad jalan terus, ndak begitu lama kita sudah tidak menemukan jalan sama sekali, kembali lagilah kita harus dan kudu turun dari sepeda atau memilih mengangkat sepedanya. Lagi-lagi kekompakan kami diuji, tanpa ada perintah kita semya saling bahu membahu membantu bentukk kerjasama tim yang sangat bagus, tanpa harus ikut kegiatan out bond, ada yang cari rute jalan keluar, ada yang bantuin angkat sepeda ada yang nggendong anaknya mas Eki dan tentu ada yang kebagian motret ……….. pokoknya kita kompak dan orak ana sik nesu !!!! Sampai akhirnya kami bisa lolos dari kesulitan, untuk kemudian istirahat dan tentu tidak ketinggalan foto ria …kami sempat foto fotoan dengan penduduk sekitar yang sedang menungguin sawah.
“ealah mas numpak pit wae kok ndadak golek dalan sik orak lumrah”….komentar mereka begitu melihat rombongan kita harus ngangkat ngangkat sepeda ditengah sawah
“lha wong lewat dalan sik alus wes iso, kok ndadak neko neko”… ujarnya mereka lagi sambil salaman dan menyapa salam saya
“yo ben to pak, sik penting sehat dan hepi… dalam hati saya Kami melanjutkan perjalanan kembali, ceria, tertawa lepas dan gembira menjadi satu mengiringi genjotan pedal sepeda kami dengan sekali kali isi dengan celotehan lucu dan guyon ringan untuk mengalihkan rasa lelah capek dan tentu lapaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaar…………… dan akhirnya perjalan kami akhiri / finish di Warung Pecel Ponorogo Jl.Kaliurang km.13., kali ini kami di traktir mbak putu dengan uang lumpsumnya, nasib sial di alami mas heri karena ketika nikmat nikmatnya makan nasi pecel, ndak taunya nasi pecelnya numplak jatuh ke lantai yah sudah nasibnya mas heri……
Dari perjalanan kali ini ada pelajaran yang menarik dan patut untuk kita terus pertahankan dan jaga kelestariannya dimanapun kita berada (lingkungan kerja, lingkungan masyarakat dll), untuk bisa “bekerjasama”dan memiliki rasa “solidaritas” antar sesama, karena satu dengan yang lainnya hakikinya tidak ada yang sempurna dan satu dengan yang lainnya benar benar saling membutuhkan maka tolong menolong menjadi kata kunci, selain orak oleh nesu !!!
Peserta kali ini ada 11 orang (mas heri, mbak Putu, pak Ahmadi (mhs.KMPK), mas Eko (UPK), mas Eki (pak Sekda) dan putranya, mas Nunung (UPK) dan temannya (orak ngerti jenenge), mas Yos dan istri (mbak Rima), dan saya sendiri Atuk)….luar biasa, rekor !!! Sementara itu, mbak Ninik (bu Walikota) pamit karena putranya ndak bisa pub, mas Asdan dan mbak Neng juga pamit (karena malemnya nu***k he he he), mas Bimo (pak Walikota) masih sakit, seharusnya ada pak Syafril, mas Sokhib, mas Mamat, Leman dan pak Supri sekuriti FK UGM, yang janjinya mau ikut sudah di sms tapi during iso melok, ok kita tunggu mereka dan teman teman lainnya untuk bergabung…… “Bravo cyclist community “, sampai jumpa minggu depan